Makkah --:--Jakarta --:--

makkah · Sains & Teknologi ·01 Sep 2026 · 6 menit baca

Matahari Makkah Membakar, Tapi Kenapa Lantai Masjidil Haram Tetap Dingin?

Fenomena lantai Mataf menjadi contoh menarik tentang bagaimana geologi material, ilmu perpindahan panas, dan rekayasa arsitektur dapat bekerja bersama untuk mendukung kenyamanan jutaan manusia yang beribadah di satu tempat.

Matahari Makkah Membakar, Tapi Kenapa Lantai Masjidil Haram Tetap Dingin?

Suhu udara Makkah pada musim panas dapat melampaui 45°C. Aspal dan beton yang terpapar matahari langsung bisa menjadi sangat panas. Namun di pelataran Mataf, jutaan jemaah tetap melakukan tawaf tanpa alas kaki dan banyak yang merasakan permukaannya jauh lebih nyaman dibandingkan material luar ruang biasa.

Hal ini sering memunculkan anggapan bahwa ada pipa air dingin atau sistem AC tersembunyi tepat di bawah lantai. Otoritas Saudi telah menjelaskan bahwa kenyamanan termal lantai Mataf terutama berkaitan dengan jenis marmer yang digunakan serta karakter pemasangannya - bukan karena adanya jaringan pipa pendingin di bawah setiap ubin.

1. Marmer Thassos dari Yunani

Salah satu kunci utamanya adalah penggunaan marmer Thassos, batu putih berkualitas tinggi yang berasal dari Pulau Thassos, Yunani. Marmer ini telah lama digunakan di area Masjidil Haram karena karakter optik dan termalnya cocok untuk lingkungan dengan paparan matahari ekstrem. Warna putih kristalnya memiliki reflektansi matahari yang sangat tinggi, sehingga sebagian besar radiasi matahari dipantulkan kembali dan lebih sedikit energi yang berubah menjadi panas di permukaan.


Namun, kesejukan marmer Thassos tidak tepat jika hanya dijelaskan karena memiliki “konduktivitas termal yang sangat rendah”. Perilakunya lebih kompleks dan merupakan hasil kombinasi antara kemampuan memantulkan radiasi matahari serta karakter termofisik alami batu tersebut. Karena itu, penjelasan ilmiahnya bukan sekadar bahwa marmer “tidak menghantarkan panas”, melainkan bagaimana material ini merespons, menyerap, dan melepaskan energi panas.

2. Ketebalan Marmer dan Kemampuan Menjaga Suhu

Lempeng marmer yang digunakan pada pelataran Masjidil Haram memiliki ketebalan sekitar beberapa sentimeter; laporan resmi Saudi menyebut sekitar 5 cm. Massa material yang lebih besar membantu membuat perubahan temperatur permukaan berlangsung lebih lambat dibandingkan lapisan batu yang sangat tipis.

Otoritas Haramain juga pernah menjelaskan bahwa marmer Thassos mampu menyerap kelembapan melalui pori-porinya pada malam hari dan melepaskannya pada siang hari. Penjelasan ini digunakan oleh pihak pengelola untuk menerangkan salah satu karakter yang membantu permukaan tetap nyaman saat terkena panas.

3. Bukan Pipa Air Dingin: Struktur Pemasangan Ikut Berperan

Di balik sebuah lantai luar ruang berskala sangat besar seperti Mataf, kenyamanan termal tidak hanya bergantung pada material permukaan. Teknik instalasi, lapisan di bawah batu, ketebalan konstruksi, serta pemisahan termal antara permukaan dan struktur di bawahnya ikut memengaruhi bagaimana panas berpindah.

Laporan Saudi terbaru mengenai fenomena ini juga menyebut peran lapisan insulasi, celah udara, dan teknik pemasangan yang membantu mengurangi perpindahan serta akumulasi panas. Karena itu, akan lebih tepat menyebutnya sebagai hasil dari sebuah sistem arsitektur dan material, bukan satu teknologi tunggal.

Ilustrasi lantai masjidil haram
Ilustrasi teknologi lantai masjidil haram

4. Pelataran Terbuka Membantu Pelepasan Panas

Mataf yang berupa ruang terbuka luas memungkinkan udara bergerak bebas di atas permukaan lantai dan membantu pelepasan panas melalui konveksi. Dipadukan dengan marmer putih yang sangat reflektif, panas yang tersimpan di permukaan dapat ditekan dibandingkan material gelap yang lebih mudah menyerap radiasi. Meski lantai tetap bisa menghangat saat cuaca ekstrem, kombinasi material dan desain inilah yang membuatnya terasa jauh lebih nyaman bagi jemaah di tengah teriknya matahari Makkah.

Sains di Balik Sebuah Pijakan

Fenomena lantai Mataf menunjukkan bagaimana pemilihan material dan rekayasa arsitektur bekerja bersama untuk menciptakan kenyamanan bagi jutaan jemaah. Kesejukannya bukan berasal dari AC tersembunyi, melainkan kombinasi marmer khusus dengan reflektansi tinggi, ketebalan dan teknik instalasi yang tepat, serta desain ruang terbuka yang membantu mengendalikan panas di tengah teriknya Makkah.

Referensi

  1. Saudi Press Agency (SPA) - penjelasan mengenai penggunaan marmer Thassos di Masjidil Haram, asal material, ketebalan, dan bantahan mengenai pipa pendingin di bawah lantai.

  2. Arab News - laporan mengenai karakter termal dan reflektansi marmer Thassos berdasarkan kajian material.

  3. Saudi Gazette - laporan mengenai peran ketebalan slab, teknik instalasi, lapisan insulasi, celah udara, dan kondisi pelataran terbuka pada kenyamanan termal lantai Grand Mosque.

Apakah informasi ini membantu?